Latest Updates

Makam Mbah Priuk, Tujuan utama wisata Ziarah di jakarta

Makam Mbah Priuk adalah potongan histori Jakarta. Dalam perkembangan
zaman, di sekitar makam berdiri aneka bangunan. Mbah Priok terkait
erat dengan sejarah kota Jakarta dan perkembangan Islam di Jawa. Nama
daerah Tanjung Priok yang kita kenal sekarang ini, lahir dari kisah
hidup Mbah Priok. Mbah Priok adalah nama lain dari Habib Hasan bin
Muhammad Al Haddad. Habib Hasan bisa sampai di tanah Batavia (Jakarta)
awalnya karena perahu yang ditumpanginya dihajar badai ketika hendak
melintas di dekat Batavia. Tetapi, pada waktu itu habib selamat dari
amukan badai. Konon, dia selamat karena menemukan periuk. Dengan
periuk itulah habib berhasil menepi ke Batavia.

Sejak itu, Habib Hasan tinggal di Batavia dan menyiarkan agama Islam
di sana. Habib Hasan wafat di Batavia pada tahun 1756. Saat Habib
Hasan dimakamkan, batu nisannya adalah dayung patah dan periuk nasi
milik Habib Hasan. Di makam itu juga ditanam Bunga Tanjung. Kemudian,
dari makam ini lahirlah nama Tanjung Priok yang merujuk pada bunga
Tanjung dan periuk nasi di makam ulama ini.

Dahulu, makam asli Mbah Priok ada di kawasan Pondok Dayung. Makam ini
lalu dipindahkan ke lokasi yang ada sekarang. Seiring waktu berjalan,
kawasan di sekitar makam Mbah Priok, tumbuh menjadi kawasan pelabuhan
terpadu Tanjung Priok. Hingga saat ini, makam Mbah Priok menjadi salah
satu tempat ziarah di Jakarta. Para peziarah datang dari berbagai
wilayah di Indonesia.

Untuk mengenang perjuangan habib, pengikutnya membangun makam
sekaligus masjid untuk mengadakan majelis taklim. Makam di Koja ini
kemudian dikenal sebagai makam Mbah Priok. Tempat itu kemudian
dikenal luas. Tiap akhir pekan, sampai sekarang, sedikitnya 1.500
orang mengikuti pengajian di sana.

Makam ulama ini, kini berada di dekat Terminal Peti Kemas (TPK) Koja,
Jakarta Utara. Selain makam, ada juga beberapa perumahan milik warga.
Karena wilayah ini dekat dengan pelabuhan, mulailah timbul
perselisihan antara warga beserta ahli waris makam dengan pengelola
pelabuhan. Sampai akhirnya timbul kasus. Bangunan pendopo makam Mbah
Priok dinyatakan berdiri di atas lahan milik PT Pelindo II sehingga
menyalahi aturan dan harus ditertibkan.

Sebenarnya sudah beberapa tahun lalu, upaya penertiban pendopo akan
direalisasikan. Tetapi, ahli waris makam Mbah Priok menolak keras.
Sampai akhirnya, Rabu 14 April 2010, pemerintah mengerahkan petugas
untuk mengeksekusi.

Pengikut Habib Ali Zaenal Abidin bin Abdulrahman Al Idrus dan Habib
Abdullah Sting, ahli waris makam Mbah Priok, tidak tinggal diam.
Mereka menghadang laju petugas hingga akhirnya bentrok fisik pecah dan
korban berjatuhan.

Usai bentrok sengit dengan pengikut habib, petugas Satpol PP mendapat
pengalaman berbau mistis. Salah seorang petugas Satpol PP yang dari
awal mengamati proses bentrokan fisik mengatakan kendati jumlah
pengikut habib tidak ada setengahnya dari Satpol PP, mereka tidak ada
yang takut terluka parah sama sekali.

"Sepertinya mereka punya ilmu ghaib. Tidak ada yang terluka berat,
saat terkena lemparan benda keras, bahkan maju terus," kata petugas
yang tidak mau disebut namanya itu.

Sebaliknya, justru petugas yang banyak menderita luka. Padahal,
petugas sudah mengenakan pakaian anti huru-hara. Petugas Satpol PP
yang bernama Slamet menambahkan malahan ada helm petugas yang sampai
pecah karena terkena lemparan dari salah satu pengikut habib. Tetapi
sebaliknya, ketika petugas melempar batu ke arah massa, seolah-olah
bagi massa, batu itu tidak berarti apa-apa. Slamet sangat heran dengan
pengalamannya. Dia mengaku merasakan ada kekuatan di luar akal
sehatnya yang ikut membentengi lokasi sehingga petugas sangat sulit
melaksanakan eksekusi.

Bentrokan fisik yang memakan banyak korban luka di pihak Satpol PP itu
akhirnya reda setelah pemerintah dan pengelola makam sepakat
berunding. Mengenai kebijakan eksekusi, dalam berbagai kesempatan
Wakil Walikota Atma Senjaya mengatakan bahwa penertiban gapura dan
pendopo di makam Mbah Priok ini sudah sesuai dengan instruksi gubernur
DKI nomor 132/2009 tentang penertiban bangunan. Sebab, kata dia,
bangunan itu berdiri di atas lahan milik PT Pelindo II, sesuai dengan
hak pengelolaan lahan (HPL) Nomor 01/Koja dengan luas 1.452.270 meter
persegi.

Sebaliknya, bagi ahli waris makam Mbah Priok rencana pembongkaran
justru menyalahi aturan. Sebab, areal pemakaman dan masjid ini telah
memiliki sertifikat resmi yang dikeluarkan pada jaman pendudukan
Belanda dulu.

Makam Mbah Priok terletak di komplek masjid Luar Batang Penjaringan.
Makam tersebut dianggap keramat dan tidak pernah sepi dari umat muslim
yang berziarah. Wasti, salah seorang warga yang membuka warung makan
Barokah tepat di depan masjid mengatakan, hampir setiap hari kawasan
makam Mbah Priok didatangi peziarah. "Karena banjir ini saja sepi
tidak ada yang berziarah. Biasanya banyak orang bahkan dari luar
daerah," kata Wasti. Wallahu A'lam Bis-Shawab (SD)

--
Best Regard
joecgp
08562954111 pin BB 29ef149b
Visit Us at ;
http://meninggikanbadan.web.id
http://tumbasbuku.com
http://belibukuonline.com

Makam Mbah Sayyid Sulaiman Jombang

Makam Mbah Sayyid Sulaiman terdapat di Dusun Rejo Slamet, Desa
Mancilan, Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Makam
Mbah Sayyid Sulaiman ini selain dikenal sebagai tempat bersejarah
sekaligus dikeramatkan. Setiap malam Jum'at Legi selalu dipadati
ribuan pengunjung. Sayyid Sulaiman adalah tokoh penyebar agama Islam
yang datang dari Yaman yang menurut beberapa sumber mengatakan bahwa
keluarga beliau adalah keturunan langsung dari nabi Muhammad SAW
dengan marga Basyaiban.

Sebagian besar masyarakat Jawa masih melakukan berbagai macam jenis
kegiatan spiritual (lelaku) demi sebuah pencapaian makna hidup yang
sesungguhnya dan untuk keselamatan hidup di dunia dan di akhirat
kelak. Gambaran kehidupan yang seperti itu tidak terlepas dari sebuah
karakteristik masyarakat yang masih mempertahankan tradisi kehidupan
kejawen. Segala perilaku orang Jawa selalu terikat pada suatu aspek
kepercayaan pada hal-hal tertentu yang menjadikan perilaku hidup orang
Jawa didominasi oleh sistem berpikir mistis. Sistem berpikir
masyarakat Jawa yang mistis juga tidak terlepas dari keyakinan yang
kuat terhadap mitos yang sangat kuat. Mereka kemudian tidak
segan-segan untuk menyatakan suatu objek bersifat keramat dan diyakini
membawa berkah. Salah satu dari tempat keramat tersebut adalah sebuah
makam, kuburan atau pesarean, terutama makam para wali, tokoh
agamamaupun tokoh kharismatik yang lain.

Dalam menjalankan kehidupan di dunia, manusia selalu berusaha untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya untuk mencapai kebahagiaan, namun jika
semua kebutuhan hidup tersebut dirasakan sebagai sesuatu yang hampa
tanpa makna, maka tidak jarang orang rela melepaskan semua apa yang
dimilikinya saat itu, misalnya keluarga, harta benda maupun pekerjaan
untuk berkelana untuk mengenal hakekat diri dan Illahi.

Perjalanan spiritual dari makam ke makam pun dijalankan seseorang
untuk mengawali pengembaraan mencari sesuatu yang tidak bisa
dijelaskan dengan kata-kata. Sarkub atau Sarjana Kuburan adalah
sebuah gelar yang diberikan kepada mereka-mereka yang suka mengembara
dari makam-ke makam. Pengembaraan dari makam ke makam menghabiskan
waktu yang cukup lama tergantung dari masing-masing pribadi Sarkub.
Perjalanan tersebut ditempuh dengan berjalan kaki, menelusuri
perkampungan, rel-rel kereta api dan jalan raya.

Tidak hanya makam-makam Wali Songo saja yang selama ini didatangi,
begitu juga dengan makam orang-orang bertuah yang jarang dikenal
masyarakat luas pun dikunjungi dan dijadikan sebagai tempat singgah
untuk melakukan aktivitas religinya, misalnya makam Sayyid Sulaiman
yang ada di Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang.

"Semasa hidupnya, Mbah Sayyid Sulaiman selain dikenal tekun beribadah,
tingkah polah serta lakunya nyaris mirip dengan Rasulullah Muhammad
SAW. Mbah Sayyid Sulaiman dikenal sangat arif serta bijak, terutama
dalam mengambil setiap keputusan. Santun terhadap sesama. Dan hormat
kepada setiap orang yang dijumpainya." Kata Mas'ud, 62 th, warga
Mojoagung yang ditemui infomistik saat berziarah ke makam Mbah Sayyid
Sulaiman, 7/02/2013.

"saya memang sering bahkan rutin ziarah ke makam Mbah Sayyid Sulaiman,
saya menghormati beliau sebagai salah satu penyebar Islam, beliau
termasuk waliyullah, harapan saya dengan dengan berziarah ini saya
bisa mengikuti jejak beliau yang tekun menjalankan syariat agama".
Tambahnya. Ditanya mengenai tujuan mendapatkan berkah, Mas'ud
mengatakan "berkah itu dari Allah SWT, berkah itu artinya nilai
kebaikan yang diberikan oleh Allah SWT kepada para hamba-Nya, jadi
kalau saya bisa diberi kekuatan dan kemampuan oleh Allah untuk
mengikuti jejak Mbah Sayyid Sulaiman, itu juga namanya berkah dari
Allah". Jelas Mas'ud.

Sayyid Sulaiman wafat pada tanggal 17 Robiul Awal 1193 H atau 24 Maret
1780 M, Jum'at Legi. Ibunya adalah seorang putri Sultan Cirebon. Dia
menjabat sebagai Qodli di Kanigoro, Pasuruan. Sewaktu berziarah ke
makam waliyulloh Mbah Raden Alif di Desa Mancilan, Mojoagung, Sayyid
Sulaiman sakit sampai akhirnya dia wafat di tempat itu juga.

Konon, jika berziarah dan Berkah Sebelum berziarah di Makarn Mbah
Sayyid Sulairnan, sebaiknya peziarah terlebih dahulu 'pamitan' ke
Makam Mbah Raden Alif. Karena memang kehadiran Mbah Sayyit Sulaiman di
Desa Mancilan adalah untuk berziarah ke Makam Raden Alif. Dan sampai
sekarang pun hal tersebut dijadikan semacam 'kultur'.

Menurut juru kunci kultur tersebut semata sebagai penghormatan kepada
'cikal bakal' munculnya makam-makam bersejarah di Desa Mancilan.
Sementara itu membludaknya peziarah, terutama pada malam Jum'at Legi,
berdampak kepada perbaikan kehidupan perekonomian penduduk sekitar.
Pasalnya, secara dadakan warga menggelar dagangan dan beragam jenis
dengan harga relatif terjangkau. (AS).


--
Best Regard
joecgp
08562954111 pin BB 29ef149b
Visit Us at ;
http://meninggikanbadan.web.id
http://tumbasbuku.com
http://belibukuonline.com

Makam Kyai Raden Santri di Gunungpring Magelang

Makam Kyai Raden Santri di Gunungpring Magelang. Nama Kyai Raden
Santri sangatlah dikenal oleh masyarakat, khususnya masyarakat
Magelang dan sekitarnya. Kyai Raden Santri yang akrab dipanggil Mbah
Raden ini memiliki nama asli Kanjeng Gusti pangeran Singasari. Kyai
Raden Santri adalah putra Ki Ageng Pamanahan yang masih memiliki trah
Prabu Brawijaya. Kyai Raden Santri adalah seorang ulama yang tergolong
ulama awal penyebar agama Islam di sekitar gunung Merapi, Merbabu,
Andong, Sumbing, dan deretan pegunungan Menoreh di sepanjang Kali
Progo.

Menjelang kerajaan Mataram berdiri, Kyai Raden Santri pernah menjabat
sebagai Senopati Perang yang bertugas mengajarkan shalat kepada para
prajurit. Saat akan mengajarkan shalat kepada para prajurit, di dusun
itu Kyai Raden Santri tidak menemukan air untuk berwudlu'. Kemudian
Kyai Raden Santri berdo;a kepada Allah agar diberikan air. Lalu Kyai
Raden Santri membuat sendang dengan tongkatnya, dan dengan izin Allah,
sendang itupun memancarkan air, bahkan hingga kini sendang tersebut
tak pernah berhenti memancarkan air, bahkan di musim kemarau
sekalipun. Sendang itu terletak di dusun Kolosendang, desa Ngawen,
kecamatan Mantilan, kabupaten Magelang.

Disebutkan pula, saat Kyai Raden Santri menetap di desa Santren, Ia
suka berkhalwat atau menyepi di puncak bukit Gunungpring. Suatu hari,
ketia Kyai Raden Santri hendak pulang dari bukit Gunungpring menuju
desa Santren, ia mendapati sungai yang harus ia seberang sedang meluap
dan dilanda banjir. Kyai Raden Santri berkata kepada air "Air,
berhentilah, aku mau menyeberang", maka luapan air itupun berhenti,
batu-batu sungai bermunculan kembali karena banjir telah reda. Itulah
sebabnya, tempat tersebut diberi nama Watucongol yang berarti batu
bermunculan.

Keturunan Kyai Raden Santri berturutan adalah Kyai Krapyak I, Kyai
Krapyak II, Kyai Krapyak III, Kyai Harun, Kyai Abdullah Sajad, Kyai
Gus Jogorekso, Raden Moch Anwar AS, Raden Qowaid Abdul Sajak, hingga
Kyai Dalhar, dan termasuk Kyai Ahmad Abdulhaq. Anak keturunan Kyai
Raden Santri inilah yang kemudian menjadi ulama penyebar dan menjadi
tokoh agama Islam di wilayah Gunung Pring hingga saat ini. peran ini
kini dilanjutkan melalui Pondok Pesantren Darussalam di Watucongol.

Komplek Makam Kyai Raden Santri dan anak cucunya kebanyakan berada di
kawasan atas Gunung Pring dan kini menjadi tempat ziarah yang ramai
dikunjungi ummat Islam dari berbagai penjuru tanah air. Kompleks makam
Kyai Raden Santri terletak di sisi barat kota Muntilan, tepat di atas
sebuah bukit yang sangat asri.

Secara administratif, Komplek Makam Kyai Raden Santri beserta para
anak cucunya di Gunung Pring berada di wilayah Desa Gunung Pring,
Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Namun demikian, berdasarkan
sejarah kepemilikan wilayah, makam kompleks makam ini merupakan milik
dan wilayah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Reh Kawedanan
Hageng Sriwandowo bagian Puroloyo.

Saat memasuki kaki bukit sebagai akses masuk ke kompleks makam Kyai
Raden Santri di Gunung Pring, peziarah akan dapat melihat terminal
parkir dengan deretan ruko yang menjajakan berbagai peralatan ibadah
maupun souvenir hasil kerajinan masyarakat setempat. Untuk naik ke
atas bukit, ada dua pilihan akses jalan berundak yang dapat dilalui
oleh para peziarah, satu melalui sisi timur bukit yaitu melalui
sebelah Masjid Kyai Raden Santri, dan satu lagi melalui sisi utara
bukit yaitu melewati Mushola Raden Santri. Gunung Pring merupakan
sebuah bukit pendek yang dapat didaki dalam waktu tidak lebih dari 20
menit.

Menapaki anak tangga yang sedikit menanjak memang membutuhkan ekstra
tenaga dan tarikan nafas. Namun sambil berjalan ke atas, para peziarah
akan disuguhi pemandangan sekitar yang sangat indah. Ada dataran kota
Muntilan di sisi timur, gunung Merapi-Merbabu jauh di sebelah timur
dan timur laut. Sementara di sebelah selatan terhampar daerah
pertanian yang hijau hingga batas pegunungan Menoreh.

--
Best Regard
joecgp
08562954111 pin BB 29ef149b
Visit Us at ;
http://meninggikanbadan.web.id
http://tumbasbuku.com
http://belibukuonline.com

Keris Kyai Carubuk, Senjata Pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga

Keris Kyai Carubuk, Senjata Pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga. Terkait
keris pusaka dan sakti di Indonesia, dalam khanazah sejarah dan budaya
nusantara, kebanyakan keris sakti berasal dari pulau Jawa, terutama di
era kejayaan Kerajaan Majapahit. Banyak cerita, kisah dan juga mitos
seputar keris. Konon, keris yang memiliki kesaktian tidak sembarangan
bisa dimiliki, harus memiliki kecocokan atau berjodoh dengan yang
memegangnya. Banyak yang meyakini juga keris yang sakti bisa berdiri
sendiri jika diminta oleh pemegangnya, dan banyak lagi cerita lainnya
tentang kesaktian keris ini. Kali ini, infomistik akan membawa anda ke
wilayah kajian keris pada konteks sejarah. Terkait sejarah ini, ada
bebeberapa keris yang terkenal dan paling populer di Indonesia, salah
satunya adalah Keris Kyai Carubuk, Senjata Pusaka Kanjeng Sunan
Kalijaga

Keris Kyai Carubuk ini adalah mahakarya ketiga dari Mpu Supa Madrangi
selain Keris Kyai Sangkelat dan Keris Kyai Nagasasra. Keris ini juga
merupakan peninggalan Mahapahit.

Dalam satu legenda dikisahkan, Kanjeng Sunan Kalijaga meminta tolong
kepada Mpu Supa Mandragi untuk dibuatkan sebuah keris coten-sembelih
(untuk menyembelih kambing). Sunan Kaljaga memberikan besi yang
ukurannya sebesar biji asam jawa sebagai bahan pembuatan keris kepada
Mpu Supa Mandrangi. Mengetahui besarnya calon besi tersebut, Empu Supa
sedikit terkejut. Namun setelah Mpu Supa menerima besi tersebut dari
Kanjeng Sunan Kalijaga, Ia berkata "besi ini bobotnya berat sekali,
tak seimbang dengan besar wujudnya dan tidak yakin apakah cukup untuk
dibuat keris". Lalu Sunan Kalijaga berkata "besi itu tidak hanya
sebesar biji asam jawa tetapi besarnya seperti gunung". Karena
ampuhnya perkataan Kanjeng Sunan Kalijaga, pada waktu itu juga besi
yang sebesar biji asam jawa tersebut menjelma menjadi sebesar gunung.
Hati empu Supa menjadi gugup, karena mengetahui bahwa Kanjeng Sunan
Kalijaga memang benar-benar wali yang dikasihi oleh Sang Pencipta
Kehidupan, yang bebas mencipta apapun. Lantaran itu, empu Supa
berlutut dan takut.

Ringkas cerita, besipun kemudian dikerjakan oleh Mpu Supa Mandrangi.
Tidak lama kemudian, jadilah sebilah keris, kemudian Mpu Supa
Mandrangi menyerahkan keris tersebut kepada Kanjeng Sunan Kalijaga.
Begitu melihat bentuk kerisnya, Kanjeng Sunan Kalijaga menjadi kaget
karena hasil kejadian keris itu berbeda jauh sekali dengan yang
dimaksudkan. Semula ia bermaksud meminta dibuatkan keris untuk
menyembelih kambing, ternyata yang dihasilkan adalah keris Jawa (baca
Nusantara) asli Majapahit, luk tujuhbelas. Begitu mengetahui keindahan
keris, perasaan Kanjeng Sunan Kalijaga tersentuh, oleh karena itu
mengamatinya sempai puas tidak bosan-bosannya. Kemudian ia berkata
sambil tertawa dan memuji keindahan keris itu.

Kemudian Kanjeng Sunan Kaljaga memberikan besi sebesar biji kemiri
kepada Mpu Supa Mandrangi dan meminta Mpu Supa Mandrangi untuk
membuatkannya sebilah keris lagi. Lalu Empu Supa mengerjakannya, dan
setelah dikerjakan, jadilah sebilah keris mirip pedang suduk (seperti
golok atau belati). Kemudian Mpu Supa Mandrangi menyerahkan keris
tersebut kepada Kanjeng Sunan Kaljaga. Begitu mengetahui wujud keris
yang dihasilkan, Kanjeng Sunan Kalijaga sangat senang hatinya dan
menamai keris tersebut dengan nama "Keris Kyai Carubuk".

Keris Kyai Carubuk ini kemudian menjadi senjata pusaka Sultan
hadiwijaya, dan pernah digunakan bahkan sanggup mengalahkan keris Kyai
Setan Kober milik arya penangsang yang ketika itu digunakan oleh
pesuruh Arya Penangsang untuk melakukan percobaan pembunuhan kepada
Sultan Hadiwijaya. Karena utusan Arya Penangsang dapat dikalahkan,
keris Kyai Setan Kober diambil oleh Sultan Hadiwjaya, lalu
dikembalikan sendiri oleh Sultan Hadiwjaya kepada Arya Penangsang yang
membuat Arya Penangsang tersinggung dan marah. Karena Arya Penangsang
tersinggung dan marah, maka timbul kerbutan antara Arya Penangsang dan
Sultan Hadiwijaya, dan keributan tersebut dapat dihentikan oleh
Kanjeng Sunan Kudus. (SB)

--
Best Regard
joecgp
08562954111 pin BB 29ef149b
Visit Us at ;
http://meninggikanbadan.web.id
http://tumbasbuku.com
http://belibukuonline.com

Ajaran dan Dzikir Sunan Kalijaga

Siapa yang tak mengenal tembang di atas? Selain Lir-ilir, ada lagi
tembang Gundul Pacul dan lain sebaginya. Tembang itu adalah ciptaan
kanjeng Sunan Kalijaga, alias Raden Said (Raden Sahid) yang sering
disebut sebagai wali orisinil. Walapun ada pula yang menyebutkan bahwa
tembang Lir-ilir itu karya Sunan Bonang. Namanya akrab di telinga
Islam Jawa. Dan, nyatanya dialah satu-satunya wali yang bisa diterima
oleh berbagai pihak, baik oleh mutihan atau abangan, santri atau awam.

Sunan Kalijaga adalah putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung
Wilatikta atau Raden Sahur. Tumenggung Wilatikta sering disebut Raden
Sahur walau dia termasuk keturunan Ranggalawe yang beragama Hindu
tetapi Raden Sahur sendiri sudah masuk agama Islam. Nama lain Sunan
Kalijaga antara lain Lokajaya, Syek Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden
Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga
berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga
berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.
Ada pula yang menyatakan, asalnya dari kata jaga (menjaga) dan kali
(sungai). Versi ini berdasarkan pada penantian Lokajaya akan
kedatangan Sunan Bonang selama tiga tahun, di tepi sungai.

Sunan Kalijaga dilukiskan hidup dalam empat era pemerintahan, yaitu
masa Majapahit (sebelum 1478), Kesultanan Demak (1481-1546),
Kesultanan Pajang (1546-1568), dan awal pemerintahan Mataram
(1580-an). Begitulah yang dinukilkan Babad Tanah Jawi, yang memerikan
kedatangan Sunan Kalijaga ke kediaman Panembahan Senapati di Mataram.
Dengan demikian diperkirakan masa hidup Sunan Kalijaga mencapai lebih
dari 100 tahun.

Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi
Saroh binti Maulana Ishaq, dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said (Raden
Umar Sahid) (Sunan Muria), Dewi Rakayuh, dan Dewi Sofiah. Dengan
demikian Sunan Kalijaga adalah ipar dari Sunan Giri. Pasalnya, Sunan
Giri adalah putra dari Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu. Ketika wafat,
beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara).

Sunan Kalijaga, seperti halnya Syekh Siti Jenar, memang menyebarkan
agama Islam di tanah Jawa melalui sisi budaya. Islam menemui banyak
halangan untuk berkembang di tanah Jawa karena bertemu dengan kultur
yang sudah sangat kuat, yaitu kultur Hindu/Buddha di bawah pengaruh
kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, Sunan Kalijaga melakukan
transmogrifikasi dengan memasukkan unsur-unsur Islam dalam
budaya-budaya Jawa seperti memasukannya ke dalam syair-syair macapat,
memodifikasi wayang kulit, menciptakan lagu yang sangat terkenal Lir-
ilir, dan sebagainya.

Buku ini tidak sededar bertutur kata tentang kisah Sunan Kalijaga,
tetapi mengungkap ajaran serta amalan yang diwariskan, seperti doa-doa
(kidung) baik yang berbahasa Jawa maupun yang diambil dari ma'surat.
Dengan demikian kita bisa lebih paham ajaran (pesan) kearifan Sunan
Kalijaga serta bisa mendapatkan khazanan lama yang berharga. Sebagai
contohnya, wejangan dibalik tembang Lir-ilir dan wejangan tentang
pacul.

Wejangan dibalik tembang Lir-ilir

Bila kita renungkan secara mendalam apa yang tersirat dari suratan
tembang Lir-ilir tersebut secara globalnya adalah sebagai berikut:

*) Bait pertama, mulai bangkitnya Islam.

*) Bait kedua, merupakan perintah untuk melaksanakan kelima Rukun Islam.

*) Bait ketiga, bertobat, memperbaiki kesaahan-kesalahan yang pernah
dilakukan. Kesemuanya untuk bekal kelak bila mati.

*) Dan bait selanjutnya mempunyai arti yang menyimpulkan mumpung ada
kesempatan baik.

Wejangan tentang Pacul

Wejangan Sunan Kalijaga tentang Pacul yang diberikan kepada Ki Ageng
Sela juga sangat menarik untuk dikaji. Wejangan yang nampaknya
sederhana itu bermakna sangat dalam.

Pacul atau cangkul merupakan senjata utama andalan para petani.
Senjata yang ampuh ini digunakan untuk mengolah lahan pertanian.
Menurut wejangan Sunan Kalijaga kepada Ki Ageng Sela, cangkul terdiri
dari 3 bagian, yaitu: 1) Pacul (bagian yang tajam), 2) Bawak
(lingkaran tempat batang doran), dan 3) Doran (batang kayu untuk
pegangan cangkul).

1) Pacul. Pacul dari kata: ngipatake barang kang muncul, artinya
membuang bagian yang mendugul (semacam benjolan yang tidka rata).
Sifatnya memperbaiki. Sebagai umat Islam, kita harus selalu berbuat
baik dan selalu memperbaiki hidup kita yang penuh dosa. Maka, seperti
halnya pacul yang baik, yaitu kuat dan tajam, kita harus kuat iman,
tajam pikiran kita untuk berbuat kebaikan. Jadi, falsafah pacul
tersebut mengandung makna ajaran agama yang tinggi nilainya.

2) Bawak. Bawak dari kata obahing awak, artinya geraknya tubuh.
Maksudnya: sebagai orang hidup wajib bergerak tubuh akan menjadi
sehat. Arti istilah yang luas, bahwa sebagai manusia kita wajib
berikhtiar, seperti halnya bekerja untuk memperoleh nafkah dunia dan
bergerak mengerjakan shalat untuk memperoleh nafkah batin.

3) Doran. Doran dari kata donga marang Pangeran, artinya berdo'a
kepada Tuhan. Maksudnya: kita manusia sebagai umat harus selalu
berdo'a kepada Tuhan, yakni Allah SWT. Karena do'a ini juga bagian
vital dari ibadah. Apalagi shalat lima waktu merupakan kewajiban umat
Islam yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, harus dilaksanakan
sepenuhnya.

--
Best Regard
joecgp
08562954111 pin BB 29ef149b
Visit Us at ;
http://meninggikanbadan.web.id
http://tumbasbuku.com
http://belibukuonline.com

PESAN SUNAN KALIJAGA UNTUK UMAT AKHIR JAMAN

PESAN SUNAN KALIJAGA UNTUK UMAT AKHIR JAMAN - tersurat dalam satu
syair jawa, mungkin anda yang tidak bisa berbahasa jawa bisa memahami
dengan membaca artinya yang sudah saya sertakan, lebih lengkapnya
syair sunan kalijaga untuk umat akhir jaman adalah sebagai berikut :
Yen pasar ilang kumandange...
Yen kali wis ilang kedunge...
Yen wong wadon wis ilang wirange...

Mlakuho topo lelono njajah deso milang kori,
Ojo nganti/ngasi bali yen durung bali patang sasi,
Golek wisik songko Sang Hyang Widhi...

Artinya :

> Yen pasar ilang kumandange...
Jika pasar sudah mulai hening. Maksudnya jika perdagangan sudah tidak
dengan tawar-menawar, karena banyaknya mall dan pasar swalayan yang
berdiri. Kata orang2 tua di tanah Jawa ini dahulunya semua pasar
memakai sistem tawar menawar (ijab qabul), sehingga suaranya begitu
keras terdengar dari kejauhan seperti suara lebah yang mendengung.

Ini bermakna tadinya adanya kehangatan dalam social relationship di
masyarakat, tapi sekarang sudah hilang. Biarpun kita sering ke plaza
atau ke supermarket ratusan kali, kita tidak saling kenal dengan
pengunjung atau para pelayan dan cashier di tempat itu.

> Yen kali wis ilang kedunge...
Jika sungai sudah mulai dangkal sehinga hilanglah kedungnya. Jika
sumber air sudah mulai kering. Maksudnya jika para alim ulama sumber
ilmu sudah mulai wafat satu persatu, tanda ilmu mulai dicabut dari
muka bumi. Sehingga orang tak berilmu menjadi pemimpin agama &
dimintai fatwa. Maka ini alamat bahwa dunia mau
diQiamatkan Allah SWT.

Ulama ditamsilkan seperti air yang menghidupkan hati hati manusia yang
gelap tanpa cahaya hidayah.

> Yen wong wadon wis ilang wirange...
Jika wanita sudah tidak punya rasa malu.

> Mlakuho topo lelono njajah deso milang kori
Berjalanlah bertapa lelana. Artinya bermujahadah, susah payah dalam
perjalanan ruhani, spiritual (suluk), riyadlah atau perjalanan fi
sabilillah.

> Ojo nganti/ngasi bali yen durung bali patang sasi
Jangan pulang sebelum kembali 4 bulan/masa.

> Golek wisik songko sang Hyang Widhi
Mencari petunjuk, ilham, hidayah dan kepahaman ruhani dari Dzat yang Maha Esa.

Pesan Sunan Kalijaga ini ditujukan kepada umat akhir jaman dengan
sebelumnya menyebut tanda-tanda akhir jaman.
Dan saran beliau untuk melakukan pendekatan kepada Allah melalui
perjalanan Ruhani (suluk) mencari petunjuk & hidayah dari-Nya.

--
Best Regard
joecgp
08562954111 pin BB 29ef149b
Visit Us at ;
http://meninggikanbadan.web.id
http://tumbasbuku.com
http://belibukuonline.com

Makam Sunan Bonang

Sunan Bonan, adalah salah satu tokoh penyebar agama Islam atau Wali
Songo dan banyak menggunakan aktifitas seni dalam dakwah dan
penyebaran agamanya. Beberapa karya seni yang diciptakannya dalam
bagian penyebaran agamanya antara lain:

Dakwah melalui pewayangan, Menyempurnakan instrumen gamelan, terutama
bonang, kenong dan kempul, Wujil, macapat, nyanyian Tombo Ati yang
banyak di nyanyikan ulang pada era sekarang ini dan masih banyak lagi.
Sunan Bonang, yang memiliki nama Raden Maulana Makdum Ibrahim adalah
anak dari Sunan Ampel dan wafat pada tahun 1525 M

Lokasi makam Sunan Bonang terletak di desa Bonang dan merupakan makam
yang ramai kunjungan oleh para peziarah yang datang ke Tuban. Pada
dasarnya, makam Sunan Bonang berada di 2 tempat yaitu di Bawean dan
Tuban, dan dipercaya keduanya adalah asli. Sunan Bonang wafat di pulau
Bawean, pada saat itu jenazah akan dikuburkan di Bawean, akan tetapi
murid-murid yang di Tuban menginginkan jenazah tersebut di kubur di
Tuban.

Lalu pada malam setelah kematiannya, sejumlah murid dari Tuban
mengendap ke Bawean, dan "mencuri" jenazah Sang Sunan. Esoknya,
dilakukanlah pemakaman. Anehnya, jenazah Sunan Bonang tetap ada, baik
di Bonang maupun di Bawean. Karena itu, sampai sekarang, makam Sunan
ada di dua tempat. Satu di Pulau Bawean, dan satunya lagi di sebelah
barat Masjid Agung Tuban, Desa Kutareja, Tuban.

--
Best Regard
joecgp
08562954111 pin BB 29ef149b
Visit Us at ;
http://meninggikanbadan.web.id
http://tumbasbuku.com
http://belibukuonline.com
Powered by Blogger.

About Me

My Photo

menukik bagaikan elang turun di lembah neraka menemani malaikat maut yang siap menjemput